Hubungan Erat antara Donor ASI, HIV & Bayi yang Sering Disepelekan

Screenshot_3
DONOR Air Susu Ibu (ASI) saat ini tengah ramai terdengar serta dikerjakan di Indonesia, persisnya di Jakarta serta sekelilingnya. Terdapat beberapa ibu serta keluarga dari bayi yang baru lahir memerlukan jasa beberapa pendonor ASI.

Memperoleh pendonor ASI juga dapat disebut susah-susah gampang. Pasalnya, lewat sosial media, saat ini pendonor ASI bisa dengan gampang didapati, tetapi saat sudah bersua keluarga bayi serta ibu pendonor tidak dapat segera serah terima ASI. Ada rangkaian bagian dari skrining yang perlu dikerjakan supaya ASI yang dikonsumsi bayi nanti bebas dari beragam penyakit serta virus.
Dokter Elizabeth Yohmi, SpA, IBCLC, Ketua Satgas ASI, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga memberi perhatian serius dalam ramainya donor ASI ini. Ia dengan IDAI tengah lakukan usaha supaya keluarga bayi serta ibu pendonor tidak asal dalam memberi ASI pada bayi.

Hal itu perlu dikerjakan, sebab ASI adalah product darah yang bisa mentransmisikan penyakit serta virus lewat ASI ke bayi. Efeknya, bukannya bayi jadi sehat malah bayi jadi lebih jelek sekali lagi kondisinya karna terinfeksi virus serta tertular penyakit.

Satu diantara virus yang bisa tertular lewat ASI adalah HIV. Data baru HIV di Indonesia tunjukkan kenaikan, walaupun di bagian beda AIDS alami penurunan.

Uniknya, di tempat pertama virus HIV diidap oleh beberapa orang yang berwiraswasta dengan angka 73, serta di tempat ke-2 di menempati oleh ibu rumah-tangga dengan pencapaian angka sebesar 65. Masuknya ibu rumah-tangga dalam tiga besar pengidap HIV paling besar menurut pekerjaan di Indonesia, dikarenakan oleh tertularnya virus dari suami, serta belum juga sadarnya bila sudah terinfeksi HIV.
“Bisa dipikirkan begitu perlunya untuk lakukan skrining sebelumnya mendonor ASI. Bila keluarga bayi asal terima ASI, dapat dipikirkan begitu menyedihkan bila pada akhirnya di ketahui anak menderita penyakit akibatnya karena donor ASI, ” ucap dokter anak yang disapa dr Yohmi.

Lebih jauh, dr Yohmi juga menyebutkan masalah HIV prenatal juga cukup tinggi, yakni 2, 8 %, yang bisa mentransmisikan virus dari ibu ke bayi yang dikandungnya. Karenanya, perlu serta butuh juga untuk seseorang ibu untuk lakukan kontrol saat hamil supaya bisa di ketahui adakah problem dalam kandungannya, termasuk juga virus yang ada pada diri serta janin yang dikandungnya.

Leave a Reply