Pemerintah Perpanjang Imunisasi Massal Campak dan Rubella,why?

Screenshot_36
JAKARTA – Kementerian Kesehatan mengatakan cakupan program imunisasi massal campak serta rubella MR dengan nasional menjangkau 98, 2% hingga akhir September lantas, lebih dari tujuan 95%. Walau demikian pemerintah mengambil keputusan untuk memperpanjangnya hingga 15 Oktober yang akan datang. Kenapa?

Direktur Surveilans serta Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan, dr Jane Soepardi, menerangkan perpanjangan program imunisasi MR ini dikerjakan karna masih tetap ada beberapa daerah yang cakupan imunisasinya dibawah 95%.

Propinsi yang cakupannya diatas 95%, diantaranya DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, serta Jawa Timur.

Beberapa daerah yang cakupan imunisasinya masih tetap rendah yakni Kabupaten Sukabumi serta Kota Bekasi di Jawa Barat, yang baru menjangkau 75%-77%. Sedang Kota Depok serta Kabupaten Bogor semasing menjangkau 80% serta 83% s/d akhir bulan kemarin.

Jane menerangkan rendahnya cakupan imunisasi di banyak daerah itu karna ada penolakan dari orang-tua dengan beragam argumen, diantaranya menyangsikan kwalitas vaksin yang dipakai dalam program imunisasi massal MR dan dipengaruhi berita bohong atau hoaks di sosial media.

” Orang-tua yang educated tahu anaknya perlu vaksin, namun telah beli vaksin MMR yang lebih mahal dibanding vaksin program, jadi terasa tidak butuh sekali lagi imunisasi MR. Ada pula grup orang-tua yang terkena hoaks di sosial media seperti berita ada yang habis disuntik lumpuh serta mati. Nyatanya sesudah diselidiki itu kan ada penyebabnya beda, ada penyakit beda serta tidak ada hubungan dengan vaksin, ada bukti-buktinya, ” terang Jane.
Diluar itu, menurut Jane, ada pula grup orang-tua yang mengatakan anaknya tidaklah perlu divaksinasi serta cukup memakai obat-obatan herbal serta madu untuk melawan penyakit. Problem kehalalan vaksin juga jadi satu diantara argumen penolakan, ” lebih Jane. Sepanjang dua minggu ke depan ini, pemerintah juga akan lakukan beragam pendekatan pada orang-tua yang menampik vaksinasi.

” Masih tetap ada grup orang-tua yang masih tetap butuh seperti pendekatan kembali. Jadi kita mengajak dari MUI, dokter spesialis, hingga mereka memperoleh pengertian, ” kata Jane.

Menurut Jane, dinas kesehatan setempat juga akan lakukan beragam usaha supaya cakupan imunisasi di wilayahnya menjangkau 95%, diantaranya dengan ‘sweeping’.

” Ada orang-tua yang mungkin saja pada saat sosialisasi tidak datang maka dari itu termakan hoaks. Saat ini kita miliki data yang menampik itu yang mana, dapat di-sweeping, lantas dengan aktif di cari. Bila saat ini kan sifatnya sweeping, bila tempo hari kan massal datang yang disuntik, nahsekarang kita mencari yang belum juga datang, ” kata dia.

Leave a Reply